Feeds:
Posts
Comments

According to Forbes (April 2012) that Einstein has 160 IQ, Madonna 140, but John F Kennedy only 119, so it means that leadership effectiveness or success is not merely determined by IQ, but it might be by MQ (moral intelligence) which its dimension are, integrity, responsibility, simpathy, and forgiveness, EQ, and BQ (body intelligence) which indicated by how you take care of your body, how you love your body, when you need take rest, does your body feel sick, etc., as well.
What is your opinion and how you are able to relate them to LPC, path-goal theory, Harsey-Blanchard theory, leadership styles, or Fidler’s theory, especially in related to Deforestation issues.

Notes: please answer as your comments on my blog, not more than 3 paragraphs (at least 9 sentences for each paragraph). Submit it before Monday 7 May 2012, try not to cheat, good luck

What are the critical end result issues when We are facing the population and Environmental problems, explain and argue briefly, not more than 2 paragraph which each of it consists of not more than 7 sentences.
You will not get scores if you break this rules.
Submit your answers as comments on this blog not more than Saturday 5 May 2012, at 12 mid night, good luck. (no e mail & sms communications).

Please answer these questions directly to my blog as your comments not more than 2 paragraph, 1) is it right when your advisor ask like this “where is/are your theories about learning motivation” and explain briefly “why” 2) how do you distinguish between Gagne’s and Ausuble’s theories in term of their implementation in biological teaching and learning process. Note. If your answer more than 2-3 paragraphs single space for all questions, You will not get the score so you might miss your nid test. Your answer should be up load not more than 12mid night on Sunday 29 April 2012, goid luck

PLEASE USE TEXT BOOKS AND CLASS EXPLANATION TO ANSWER THESE QUESTIONS

WHEN YOU HAVE A RESEARCH PROBLEM

1. WHAT ARE THE IMPORTANT CRITERIA SHOULD BE TAKEN INTO ACCOUNT IF YOU FORMULATE RESEARCH PROBLEM/S

2. FORMULATE  YOUR SCIENTIFIC  RESEARCH PROBLEM BASED ON THOSE CRITERIA, IN BIOLOGICAL SCIENCE OR BIOLOGY EDUCATION.

3. TO SOLVE THAT PROBLEM YOU SHOULD FIND SOME THEORIES THAT RELEVANT TO YOUR RESEARCH PROBLEM, HOW DO YOU DEFINE “THEORY?”

4. THEN YOU HAVE TO FORMULATE YOUR HYPOPTHESIS

5. HOW DO YOU DISTINGUISH BETWEEN RESEARCH HYPOTHESIS AND STATISTICAL HYPOTHESIS, SUPPORT WITH EXAMPLE/S

6. WHAT METHOD AND DESIGN ARE YOU GOING TO APPLY BASED ON YOUR HYPOTHESIS? AND WHY?

7. SUPPOSED YOU WOULD TAKE 60 SAMPLE; EXP. 60 CORAL REEFS, BIRDS, EGGS ECT.(FOR BIO SCIENCE) OR AROUND 85 STUDENTS/TEACHERS FOR BIO.EDUC, PLEASE DESCRIBE IN DETAIL, HOW YOU WILL COME UP WITH THAT AMOUNT OF SAMPLE

NOTES: ALL ANSWERS SHOULD NOT MORE THAN 3 PARAGRAPHS WITH NOT MORE THAT 5 SENTENCES FOR EACH PARAGRAPH. SUBMIT IT AS YOUR COMMENTS ON THIS BLOG, WITH CLEAR NAME, BUT DO NOT SEND IT TO MY E MAIL. I AM WAITING FOR YOUR COMPLETE ANSWERS EXACTLY ON WEDNESDAY 11 APRIL, 2012, 11.00PM. REMEMBER WHO BREAK THIS RULE, HE/SHE WILL NOT GET MID TEST SCORE, OTHERWISE REPEAT

PERUMUSAN MASALAH

DAN

PENENTUAN METODE PENELITIAN

 

Copy right: i made putrawan (Sunday, 8 April 2012)

 

Salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan kualitas sebuah penelitian ilmiah adalah rumusan masalah. Dalam hal ini yang dimaksud masalah adalah masalah ilmiah penelitian (scientific research problems). Masalah penelitian inilah yang akan dipecahkan atau dicarikan solusinya melalui suatu proses penelitian ilmiah. Berbeda dengan rumusan-rumusan masalah pada umumnya, seperti laporan-laporan proyek, dalam penelitian ilmiah dituntut untuk memenuhi beberapa kriteria, antara lain masalah dirumuskan dengan kalimat tanya, sebaiknya hindari kata tanya “sejauh manakah” atau “seberapa besarkah”, dsb. Kriteria lain adalah setiap rumusan masalah minimal terdapat dua faktor atau variabel yang dihubungkan atau dibedakan, dan terakhir adlaah variabel-variabel tersebut harus dapat diukur dan dimanage (measurable and managable).

 

Agar dapat diukur maka variabel-variabel tersebut harus konseptual, artinya variabel tersebut harus didukung oleh teori-teori sehingga akan lebih mudah mengukurnya karena indikator-indikatornya jelas dideskripsikan dalam teori-teori yang relevan. Variabel dapat dimanage artinya data dengan mudah dapat dikumpulkan dan tersedianya atau bersedianya responden sebagai unit analisis untuk mengisi instrumen penelitian.

 

Hal lain yang perlu diperhatikan peneliti adalah dalam menentukan atau memilih variabel. Berdasarkan namanya, variabel memiliki ciri harus bervariasi. Insentif disuatu perusahaan atau institusi untuk golongan yang sama bukan variabel, tetapi fakta karena besarnya sama untuk golongan atau jenjang (level of job) yang sama. Kinerja (performances) adalah variabel karena setiap orang memiliki level of perfomances yang berbeda, demikian juga motivasi kerja atau kepuasan kerja, jelas dapat dipakai sebagai variabel karena tiap orang memiliki variabel tersebut yang bervariasi.

 

Namun ada juga peneliti kadang keliru menyebut misalnya kebijakan sebagai variabel sebab kebijakan disuatu perusahaan atau lembaga tidak akan dan tidak pernah bervariasi. Jadi dalam hal ini para peneliti harus secara logis menentukan berkaitan dengan apa yang hendak diukur terhadap kata kebijakan tersebut atau apa yang bervariasi terhadap kebijakan itu, seperti mungkin persepsi karyawan terhadap kebijakan atau penilaian atau pemahaman karyawan, jadi dalam hal ini yang bervariasi tentu persepsinya, penilaiannya atau pemahamannya terhadap kebijakan tersebut.

 

Oleh karena itu, apabila ditanya apa variabelnya maka jawabannya adalah persepsi atau pemahaman, sehingga peneliti dituntut untuk mencari teori-teori tentang persepsi atau pemahaman terhadap kebijakan. Jadi variabelnya bukan kebijakan, karena kebijakan tidak bervariasi. Faktor the naming variable sangat mempengaruhi peneliti dalam menentukan teori-teori yang akan diterapkan dalam sebuah karya ilmiah baik itu skripsi, thesis bahkan disertasi. Demikian juga contoh-contoh lain seperti  budaya organisasi, iklim organisasi, konpensasi, rekrutmen, gaji, pemberdayaan, dsb.

 

Dalam penelitian ilmiah, variabel pada umumnya ada dua yaitu variabel bebas (independent variable) yang dapat mempengaruhi atau lebih dulu terjadi  terhadap variabel  lain yang disebut variabel terikat (dependent variable). Variabel terikat inilah yang menentukan the main topic seorang peneliti yang mencerminkan spesialisasinya.

Berdasarkan pengalaman membimbing mahasiswa, khususnya mahasiswa program doktor, banyak ditemukan adanya ketidakkonsistenan antara rumusan masalah dengan penentuan metode penelitian. Sebagai contoh, bagaimanakah hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan? Ternyata metode yang dipilih peneliti survei dengan analisis regresi korelasi, jadi jenis penelitiannya kuantitatif padahal penelitian merumuskan masalah menggunakan kata tanya bagaimanakah yang mencerminkan adanya suatu proses yang ingin dipecahkan peneliti. Dalam hal ini jenis penelitian yang tepat adalah  kualitatif.

 

Apabila kata tanya bagaimanakah diganti dengan apakah sehingga menjadi apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan, maka jenis penelitiannya kuantitatif dengan metode survei dan analisisnya regresi korelasi yang bersifat non kausal.

 

Contoh lain sebagai berikut

 

  1. bagaimanakah mengembangkan model instruksional dalam rangka meningkatkan pemahaman konsep-konsep matematika untuk anak SD kelas IV? Jenis penelitian ini dapat berupa developmental research atau R and D yang dilanjutkan dengan pengujian keefektifan model yang telah dikembangkan tersebut melalui eksperimen.
  2. Bagaimanakah cultural cohesiveness dapat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan di institusi X? Jenis penelitian yang dipilih adalah kualitatif dengan langkah-langkah yang lengkap termasuk triangulasi dengan menekankan pada observasi yang unobtrusive, sampai ditemukan sesuatu yang unique. Tanpa uniqness dan observasi terhadap proses maka penelitian kualitatif hanya sebuah ilusi.
  3. Apakah komitmen berpengaruh langsung terhadap efektivitas organisasi? Contoh ini berkaitan dengan studi kausal non eksperimen dengan jenis penelitian kuantitatif, metode survei dengan analisis jalur (path analysis) untuk menguji model.
  4. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar genetika antara yang diajar dengan alat peraga dan siswa lain yang diajar dengan ceramah, apabila motivasi belajar siswa dikontrol? Masalah seperti ini harus dipecahkan melalui penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Apabila the main effect memiliki dua level demikian juga simple effect dengan dua level, maka disain ekespeimennya adalah 2 x 2 factorial. Eksperimen yang dipilih karena variabel bebasnya dapat dimanipulasi menjadi beberapa level, sehingga memungkinkan peneliti melakukan treatment. Analisnya menggunakan ANOVA two way.

 

Demikian sekilas tentang konsistensi antara masalah dengan metode yang dipilih dalam penelitian ilmiah, sehingga dapat terpenuhi salah satu ciri seorang ilmuwan yaitu KONSISTEN. TIDAK BOLEH SALAH DAN BOHONG

 

 

 

 

 

 

MISLEADING TENTANG POPULASI

DALAM PENELITIAN ILMIAH

Dalam penelitian akademik, khususnya penelitian kuantitatif, diperlukan adanya alur berpikir yang logis. Alur berpikir ini diperlukan manakala kita ingin memecahkan masalah ilmiah. Memecahkan masalah ini dapat melalui penulisan karya-karya ilmiah sebagai produk dari penelitian yang juga ilmiah seperti skripsi, thesis maupun disertasi.

Oleh karena itu, alur berpikir ilmiah harus mengikuti langkah-langkah yang merupakan suatu proses penelitian ilmiah dalam metodologi penelitian yang meliputi perumusan masalah, deskripsi teoretik, argumentasi berpikir dalam rangka perumusan hipotesis, penentuan metode penelitian dan disain penelitian, penetapan populasi dan sampling, penyusunan alat ukur atau instrumen, kaliberasi alat ukur, serta analisis data dlaam rangka pengujian hipotesis

Pada kesempatan ini yang akan dibahas adalah tentang konsep populasi yang dikaitkan dengan konsep sampel dan kaitannya dengan pengujian hipotesis. Di dalam analisis data terdapat dua macam statistika yaitu statistika deskriptif yang meliputi perhitungan-perhitungan rerata, varians, simpangan baku, proporsi, mode, median, kurtosis, distribusi frekuensi, dsb dan statistika induktif atau inferensial yang berisikan tentang berbagai jenis distribusi sampling sebagai lapangan pengujian hipotesis seperti distribusi sampling Z, t, F, khi-kuadart, dsb.

Dalam setiap penelitian kuantitatif, kadang-kadang peneliti hanya ingin memecahkan masalahnya terbatas pada penggunaan statistika deskriptif karena memang peneliti tidak atau belum mampu menyusun hipotesis penelitian sebagai jawaban sementara masalah yang telah dirumuskan. Jadi peneliti hanya ingin mendeskripsikan hasil temuannya dengan angka-angka sperti rata-rata, pesentase-persentase, lalu menghitung banyak dan panjang kelas melalui pendekatan Sturgess untuk membuat tabel distribusi frekuensi dan histogram. Berdasarkan data tersebut peneliti menyusun narasi sebagai hasil interpretasi dan membuat argumentasi ilmiah tentang temuan-temuan dalam bentuk angka-angkla tersebut. Bahkan peneliti juga dapat menghubung-hubungkan data yang satu dengan data dari variabel yang lain secara kritis serta didukung oleh berbagai teori.

Namun dari segi ilmiah, temuan-temuan tersebut belum kuat untuk dijadikan dasar argumentasi ilmiah karena tidak dapat diterapkannya teori-teori peluang (probabilitas) mengingat tidak adanya hipotesis yang diuji atau diverifikasi.

Dalam keadaan seperti ini konsep populasi berkaitan dengan jumlah orang yang mungkin dalam pengambilan sampel dapat menggunakan persentase tertentu seperti 5 % atau 10% dari besar populasi yang diketahui yaitu sebanyak jumlah unit analisis yang digunakan. Misalnya populasi adalah karyawan perusahaan X yang berjumlah 1650 karyawan. Dari jumlah tersebut peneliti dapat mengamil sampel sebanyak yang dibutuhkan, 10% atau 15% tergantung masalah yang diteliti.

Namun sering dijumpai dalam berbagai karya ilmiah termasuk thesis atau disertasi, jumlah atau besarnya populasi disebutkan dalam laporan penelitiannya, pada hal penelitian tersebut memiliki hipotesis yang akan diverifikasi. Hipotesis tersebut sebenarnya adalah lapangan pengujian untuk populasi sehingga dalam setiap penulisan notasi hipotesis statistik selalu ditulis dengan notasi parameter.

Oleh karena itu, dalam hal ini dapat dikatakan adanya misleading konsep apabila peneliti menyebutkan jumlah atau besar populasi padahal risetnya memiliki hipotesis yang akan diuji. Jadi karena populasi itu diwujudkan dalam bentuk hipotesis yang akan diuji maka pernyataannya pun masih dalam bentuk dugaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa populasi itu abstrak dan tidak berkaitan dengan jumlah orang namun berhubungan dengan data. Disebut abstrak karena penelti tidak dapat mengetahui berapa banyak data yang dapat diukur dari setiap orang.

Karena itu, misleadingnya terletak pada penyebutan jumlah populasi padahal penelitiannya akan menguji hipotesis dengan menggunakan statistika inferensial. Hal semacam ini tampak seperti sesuatu yang dapat neglected, namun akan memalukan bila dalam sebuah disertasi muncul misleading tersebut (COPY RIGHT BELONG TO PROF. I MADE PUTRAWAN, APRIL 2012)

 

 

 

 

 

HAKIKAT HIPOTESIS

DALAM

PENELITIAN KUANTITATIF

Copy right i made putrawan (Sunday bete 8 April 2012)

 

Pada hakikatnya setiap penelitian kuantitatif dalam ilmu-ilmu sosial  menerapkan filosofi yang disebut deducto hipothetico verifikatif  artinya, masalah penelitian dipecahkan dengan  bantuan cara berpikir deduktif melalui pengajuan hipotesis yang dideduksi dari teori-teori yang bersifat universal dan umum, sehingga kesimpulan dalam bentuk hipotesis inilah yang akan diverifikasi secara empiris melalui cara berpikir induktif dengan bantuan statistika inferensial.

Jadi, hipotesis yang diajukan peneliti, setelah membaca teori-teori yang relevan merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang diajukan. Oleh karena itu, penggunaan kata tanya dalam perumusan masalah harus juga diperhatikan dengan mempertimbangkan jawaban yang logis dalam hipotesis, sehingga tidak mungkin peneliti dapat mengajukan hipotesis manakala kata tanya yang digunakan dalam perumusan masalah ilmiah adalah kata tanya seperti “sejauh manakah” atau “seberapa besarkah,” karena jawabannya sejauh itu atau sebesar itu.

Pada umumnya, dalam penelitian sosial terdapat dua macam rumusan masalah yaitu yang menghubung-hubungkan  dan membedakan antar variabel. Dalam hal ini, menghubungkan dalam kaitannya dengan studi korelasional, merupakan studi non kausal artinya variabel bebas hanya mampu menentukan ( to determine), dalam bentuk persentase. Apabila peneliti memiliki teori yang kuat tentang hubungan antar variabel, maka dapat dilakukan penelitian kausal melalui hubungan dengan menguji model pengaruh (path model) antar variabel yaitu melalui studi kausal yang bersifat non eksperimen. Analisisnya dapat berupa path anlysis atau linear structural relation (lisrel) bila model bersifat non-recursive.

Jenis lain yaitu penelitian kausal melalui eksperimen atau ex post facto bila tidak dapat dilakukan treatment karena variabel bebas tidak dapat dimanipulasi mengingat variabel tersebut sudah after the fact artinya sudah terjadi sebelumnya seperti perbedaan jenis kelamin atau jenis pekerjaan.

Namun apapun bentuk penelitiannya, pada umumnya hipotesis ada dua yaitu hipotesis penelitian yang dirumuskan dengan kata-kata verbal, apakah berkaitan dengan hubungan atau perbedaan dan hipotesis statistik yang ditulis dengan notasi-notasi parameter yang dapat diuji dan memiliki dua macam hipotesis yaitu hipotesis nol dan hipotesis 1 atau alternatif. Hanya hipotesis inilah yang dapat diuji dengan statistika inferensial.

Misalnya dalam penelitian kuantitatif dirumuskan masalah sebagai berikut, apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan, maka rumusan hipotesis penelitiannya adalah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan. Namun hipotesis penelitian ini masih ngambang karena tidak secara tegas menyatakan hubungan apa, positif atau berbanding lurus ataukah negatif atau berbanding terbalik,  tergantung teorinya. Kalau teorinya menemukan bahwa makin kuat motivasi kerja karyawan maka makin tinggi produktivitasnya maka hipotesis dinyatakan “terdapat hubungan positif, kecuali variabel bebas yang dipilih adalah stress, sehingga bentuk hubungannya menjadi hubungan berbanding terbalik dengan produktivitas karyawan.

Demikian juga  bila masalah yng dirumuskan seperti apakah kecerdasan emosional berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan, sehingga hipotesisnya menjadi kecerdasan emosional berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan.

Contoh lain dalam eksperimen dengan disain faktorial 2 x 2, masalah utamanya adalah apakah secara keseluruhan terdapat perbedaan  kemampuan daya saing (competitiveness) antara manager yang dilatih dengan metode sensitivity training (ST)  dengan kelompok lain yang dilatih dengan cara konvensional bila motivasi kerja mereka dikontrol? Hipotesis penelitiannya “terdapat perbedaan kemampuan daya saing dengan variabel-variabel yang sama seperti di atas, namun peneliti yang memiliki teori-teori yang kuat tidak akan mengajukan hipotesis seperti itu karena mengundang pertanyaan  tentang metode mana yang lebih unggul, jadi hipotesis penelitiannya harus secara tegas dan apriori dinyatakan seperti berikut “kemampuan daya saing manager yang dilatih dengan ST lebih tinggi dari pada yang dilatih dengan cara konvensional bila motivasi kerjanya dikontrol.”

Hipotesis penelitian jenis terakhir ini yang menentukan macam pengujiannya apakah one tailed test atau two tailed test. One tailed test diindikasikan dengan notasi > atau < antar parameter yang akan diuji, berarti dalam distribusi sampling letak pengujian hipotesis diujung kanan bila > dan ujung kiri bila notasi <.  Hal yang sama juga berlaku bagi hipotesis yang berkaitan dengan studi korelasional atau path analisis.

Apabila two tailed test yang dicirikan oleh tanda tidak sama dengan yang dipilih, maka konsekuensinya adalah taraf signifikansinya harus dibagi dua karena letak pengujian dikedua ujung distribusi sampling. Jadi apabila alpha (taraf signifikansi) yang dipakai 0,05 maka alpha yang dilihat pada tabel distribusi sampling adalah pada 0,025 denga n derajat kebebasan tertentu sesuai denga  besar sampel.

Namun satu pesan yang perlu disampaikan agar tidak terjadi misleading adalah berkaitan dengan hakikat hipotesis nol dalam hal mana disebutkan bahwa  the null hypothesis is no different hypothesis artinya hipotesis nol = hipotesis kesamaan sehingga dalam penulisannya selalu menggunakan tanda = dan bukan > atau <, apapun notasi yang ditulis pada hipotesis satu, semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers